Suatu ketika saya berdebat dengan teman saya tentang ‘penyakit khas’ kaum laki-laki yakni, impotensi. Siapa sih yang tidak tahu tentang impotensi. Kalaupun tidak tahu, suatu saat pasti akan tahu, karena masalah impotensi merupakan masalah yang paling dikhawatirkan oleh pasangan selain perceraian dan perselingkuhan. Perdebatannya dimulai dengan pertanyaan impotensi disebabkan oleh apa? Kemudian dengan rasa percaya diri saya menjawab “ya jelas gangguan fisik, khan ditandai dengan penis yang tidak bisa ereksi?!”. Lalu teman saya dengan tegas mengatakan “Salah, impotensi itu disebabkan karena gangguan psikologis (selanjutnya disebut psikis)!” “Saya baca beberapa penelitian yang mengatakan bahwa laki-laki yang impotent itu kebanyakan pernah melakukan hubungan seks pra-nikah” lanjut teman saya. “Lho apa hubungannya?” tanya saya. Tidak menjawab pertanyaan saya, tapi terus berkata “dalam penelitian itu, laki-laki yang impoten dulu pernah melakukan seks yang terburu-buru karena dikejar nafsu yang sudah naik di ubun-ubun mereka. Sehingga terkadang melakukan hubungan seks sekenanya, ya di toilet supermarket, di kos-kosan, di kebun. tapi dilakukan dengan tergesa-gesa…..” kata-katanya berhenti, seolah ada beberapa kata yang disembunyikan karena malu mengutarakannya. Debat terus kami lakukan hingga di akhir debat kita sama-sama bilang “Lho kenapa sih kita repot, khan itu penyakitnya para laki-laki,,, kita khan cewek!” sambil tertawa saya membayangkan, mungkin kaum hawa lupa kalau kebalikannya impotent pada perempuan adalah Frigid.
Impotensi merupakan ketidakmampuan pria melakukan ereksi pada penisnya. Jadi zakarnya (bukan buah zakar-nya) tidak mampu menegang atau tidak mampu mempertahankan ereksinya. Ada tiga macam impotensi, yaitu yang sifatnya organis, fungsionil dan psikoghen. Impotensi organis jarang ditemukan; yaitu disebabkan oleh cacat organic atau anatomis pada alat kelamin, atau ada kerusakan pada susunan saraf. Sedangkan impotensi fungsionil disebabkan oleh gangguan pada syaraf, oleh pemakaian obat-obatan tertentu dan narkoba (drugs) yang berlebihan. Bisa juga disebabkan oleh terlalu banyaknya kecanduan alkohol.
Sedangkan impotensi yang psikhogen paling banyak terjadi. Yaitu disebabkan oleh gangguan-gangguan psikis, gangguan emosional (rass takut dan cemas yang hebat, kecewa, rasa jengkel, motif balas dendam, kurang kepercayaan diri dan lain-lain). Ada kalanya bisa terjadi ereksi, akan tetapi zakar menjadi lemas kembali setelah mendekati vagina, sepertinya takut pada vagian. Hal ini disebabkan oleh adanya rasa kecemasan atau ketakutan, sebagai produk dari pengalaman traumatis pada waktu kecil dan masa muda. Adakalanya juga disebabkan karena orang yang bersangkutan berpegang terlalu ketat pada hal yang ditabukan misalnya larangan seks bebas yang keras, dosa-dosa.
Impotensi juga bisa berlangsung karena penghinaan-penghinaan yang dilontarkan oleh isteri atau partner seksnya, karena tidak bisa memuaskan pihak wanita. Penghinaan bisa juga muncul dari teman sendiri, yang sering mengejek dirinya dengan olok-olokan “lemah syahwat”, “banci” atau “betina”, dan perkataan lainnya yang bisa menimbulkan devaluasi-diri.
Lebih lanjut, impotensi juga bisa terjadi karena anggapan / perasaan / kepercayaan pada diri pria tersebut, bahwa dia sungguh-sungguh lemah dan impoten. Ada prose “Nominasi Diri” (zelfbenaming, zelfbestempelling), sehingga perasaan tadi memberikan pengaruh yang sugestif pada diri sendiri. Karena itu masalah, impotensi adalah masalah kepercayaan-diri sendiri. Bila seorang pria secara kontinu meragukan potensi seksualnya, lambat laun dia betul-betul akan menjadi impotent. Maka penghinaan dari istri, partner seks dan teman bisa merusakkan kepercayaan diri sendiri.
Kedua hal tersebut Impotensi dan Kurang Percaya Diri saling berkaitan dan merupakan satu vicious circle (lingkaran setan). Semakin menipis rasa percaya diri seseorang terhadap kemampuan seksualnya maka semakin lemahlah syahwatnya, semakin impotenlah dirinya.
Bentuk impotensi yang tidak terlalu parah ialah ejakulasi premature atau lebih popular dengan kata ejakulasi dini atau lebih popular lagi dengan kata edi-tansil (ejakulasi dini tanpa hasil). Yaitu pembuangan sperma yang terlalu dini/cepat. Ejakulasi dini ditandai dengan pembuangan sperma sebelum zakar melakukan penetrasi terhadap vagina atau pembuangan sperma beberapa detik sesudah penetrasi. Si pria tidak mampu menahan dorongan ejakulasi didalam vagina selama beberapa detik. Pada umumnya ejakulasi premature tersebut disebabkan oleh rasa takut, rasa tidak aman dan kurang kepercayaan diri pada saat melakukan hubungan seksual. Rasa takut dan tidak nyaman pada saat melakukan hubungan seks akan terus terbayang pada saat berhubungan seksual lagi, sehingga lama kelamaan pria tersebut menjadi mengidap ejakulasi dini atau bahkan impotent total. Bisa juga disebabkan oleh kegagalan-kegagalan tertentu dalam kariernya, dominasi istri dalam rumah tangga, dan penghinaan yang berlebihan kepada pria tersebut.
Jika factor penyebab impotensi tadi adalah psikhogen sifatnya, maka harus mendapatkan psikoterapi yang cukup lama dan intensif, dengan jalan re-edukasi mental, untuk memulihkan kembali kepercayaan diri. Tidak hanya itu saja pasangan harus ikut membantu kesembuhan sang pria, yakni dengan re-learning posisi coitus (bersenggama), “Wanita berada diatas Pria”.
Lalu apa hubungannya dengan perdebatan saya dengan teman saya mengenai perihal impotensi? Hasil perdebatannya sudah saya tulis dan sedang anda baca sekarang ini. Jadi ada benarnya teman saya mengatakan bahwa “dalam penelitian itu, laki-laki yang impoten dulu pernah melakukan seks yang terburu-buru karena dikejar nafsu yang sudah naik di ubun-ubun mereka. Sehingga terkadang melakukan hubungan seks sekenanya, ya di toilet supermarket, di kos-kosan, di kebun. tapi dilakukan dengan tergesa-gesa…..”. Coba anda bayangkan jika kita sedang bergairah, nafsu dan ingin melampiaskan hasrat kita kepada pasangan, namun situasi tidak mendukung, misalnya tidak ada tempat, tidak nyaman terlalu berisik karena banyak orang, takut dipergoki bapak kos, takut dosa karena belum menikah, dll. Dus, rasa takut dan rasa tidak nyaman itu membuat kita cepat-cepat menyudahi ‘permainan’. Untuk menghindari terjadinya impotensi bagi anda yang belum menikah, penulis sarankan untuk pilih tempat yang aman dan terhindar dari rasa takut, karena akan berpengaruh pada ‘permainan’ anda, dimana ‘permainan’ tersebut akan terus berulang dan menghantui kehidupan seksual anda kelak. Dan yang lebih penulis sarankan adalah Jangan Pernah Melakukan Seks Pra-Nikah!.
Terima kasih buat Dra Kartini Kartono dalam bukunya yang berjudul Psikologi Abnormal & Pathologi Seks.
semakin banyak berganti-ganti pasangan menjadikan semakin banyak referensi. semakin banyak pula perbandingan.
Stop berpetualang!.
ingat pada-Nya, memilih secara cerdik dan hadapi masalah yang ada!.
“sampai ketemu di surga”, ^_^Mungkin!.
wah topikx seru nih, btw aq mgkn termasuk pasien edi tansil so gmn cara ngobatinx mbak? maksudnya obat tradisional mgkn heeee coz gk punya uang buat k psikiater heeee
ngapain tu si cewe liat2 k dalam. nyari apaan ya… mksih wat yg udh brbagi info na. kira2 enak gk ya mnikah itu ? jdi pnsaran niee… posting sxn kek mslh gimana rs na lau udh mnikah. pa gk bosan lau cuma itu2 ja menu mkn malam na? ana sokong bget posting terakhir na. jgn coba2 seks sblum menikah. lau udah gk tahan lagi, nikah aja buk… pak… ya. ingat dosa. dosa yg kmrn2 ja blum lunas dbyr dg amal ibdah, jgn d+ lgi.
nice articel…