POTRET BURAM KEKERASAN TERHADAP ANAK

POTRET BURAM KEKERASAN TERHADAP ANAK

154839p.jpgKekerasan yang menimpa anak-anak, baik dari keluarga, sekolah, maupun lingkungan sekitar, terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kekerasan anak pada 2005 meningkat sekitar 20 sampai 25 persen bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada tahun 2005 (www.republika.co.id, 2007). lalu, kasus kekerasan terhadap anak yang berhasil dicatat Komnas PA mencapai 700 kasus, sedangkan pada tahun 2004 sekitar 500 kasus. Sementara itu, Data Pusat Krisis Terpadu (PKT) RS Cipto Mangunkusumo menunjukkan, bahwa jumlah kasus kekerasan terus meningkat, yaitu dari hanya sekitar 226 kasus pada tahun 2000 menjadi 655 kasus pada tahun 2003. Dari jumlah kasus tersebut, hampir 50 persen adalah korban kekerasan seksual; sekitar 47 persen korbannya adalah anak-anak (di bawah usia 18 tahun); dan sekitar 74 persen korbannya adalah berpendidikan SD hingga SLTA. Selama tahun 2006 (dalam Andez, 2007), data dari komnas Perlindungan Anak (PA) menyebutkan, jumlah kekerasan fisik sebanyak 247 kasus, kekerasan seksual 426 kasus sedangkan kekerasan psikis 451 kasus. Kasus-kasus tersebut, kata Adwin, lebih banyak terjadi di luar Jakarta. LBH PA sendiri, yang merupakan LBH khusus anak satu-satunya di Indonesia, tidak setiap hari menerima laporan kasus anak..

Dari sekian pengaduan kekerasan yang diterima komnas Perlindungan Anak (PA), pemicu kekerasan terhadap anak yang terjadi diantaranya adalah pertama, munculnya kekerasan dalam rumah tangga, terjadinya kekerasan yang melibatkan baik pihak ayah, ibu dan saudara yang lainnya menyebabkan tidak terelakkannya kekerasan terjadi juga pada anak. Anak seringkali menjadi sasaran kemarahan orang tua. Kedua, terjadinya disfungsi keluarga, yaitu peran orang tua tidak berjalan sebagaimana seharusnya. Ketiga, faktor ekonomi, yaitu kekerasan timbul karena tekanan ekonomi. Tertekannya kondisi keluarga yang disebabkan himpitan ekonomi adalah faktor yang banyak terjadi.

Penelitian Murray Straus (dalam Jalu, 2006), seorang sosiolog dari University of New Hampshire yang melakukan survei terhadap 991 orang tua menemukan, 90% orang tua mengaku melakukan bentuk-bentuk agresi psikologis saat dua tahun pertama usia anak. 75 persen di antaranya mengaku melakukan bentakan atau berteriak pada anak. Seperempat orang tua menyumpahi atau memaki anaknya, dan sekira 6% bahkan mengancam untuk mengusir sang anak. Menurut survei tersebut, membentak dan mengancam adalah bentuk paling umum dari agresi yang dilakukan orang tua. Dibandingkan tindakan yang lebih ekstrem lagi, seperti mengancam, memaki, dan memanggil dengan kasar dengan panggilan bodoh, malas, dan sebagainya, maka membentak paling banyak dilakukan. Bukan hanya kepada anak, bayi pun kena bentak.

Tindak kekerasan terhadap anak merupakan salah satu bentuk pelanggaran hak asasi manusia. Meskipun banyak upaya telah dilakukan oleh pemerintah, seperti penyusunan Rencana Aksi Nasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan (RAN-PKTP), pembangunan pusat-pusat krisis terpadu di rumah sakit, pembangunan ruang pelayanan khusus (RPK) di Polda dan Polres, dan penyebaran informasi dan kampanye anti kekerasan terhadap perempuan dan anak, namun kesemua upaya tersebut belum cukup untuk menekan tingginya tindak kekerasan dan eksploitasi terhadap anak (dalam Kelopak, 2006).

Baru-baru ini seorang anak di Malang, disiram air panas oleh ibunya sendiri. Alasannya cukup sepela, sang anak sering buang air besar disembarang tempat dan membuat marah sang ibu. Kasus tersebut tampaknya menambah deretan kasus kekerasan terhadap anak yang terbongkar (dalam Setiawan, 2007). Masih jelas dalam ingatan, kasus yang menimpa Dede Arjuendri, seorang balita di Jakarta Barat, pada tanggal 26 Peburari 2006. Dede tewas setelah dianiaya ayah tirinya, Dovi Septa Rendi. Penganiayaan diawali dari tumpahnya kopi Dovi karena tersenggol sehingga menyebabkan Dovi marah kemudian memukuli Dede dan menyiramnya dengan kopi. Akibatnya, beberapa saat kemudian Dede menjadi kejang-kejang dan akhirnya meninggal setelah sempat dirawat di RS Tangerang (dalam Yuwono, 2006). Banyaknya kasus kekerasan memunculkan kekhawatiran akan akibat jangka pendek maupun panjang bagi masyarakat.

Jika anak hanya mendapat contoh kekerasan, maka diperkirakan pola-cara hidup mereka juga akan dijalani dengan kekerasan, tidak dengan dialog atau diskusi. Secara umum diakui bahwa kekerasan itu bisa datang dari keluarga yang penuh konflik dan dari lingkungan sekolah karena tuntutan guru dalam pencapaian prestasi. Kasus kekerasan anak sering menjadi headline di berbagai media. Namun, banyak kasus yang belum terungkap, karena kasus kekerasan ini dianggap sebagai suatu hal yang tidak penting. Begitu banyak kasus kekerasan yang terjadi pada anak tetapi hanya sedikit kasus yang ditindaklanjuti. Muncul anggapan bahwa masalah kekerasan anak adalah masalah domestik keluarga yang tidak perlu diketahui orang lain. Padahal, seorang anak merupakan generasi penerus bangsa kehidupan masa kecil anak sangat berpengaruh terhadap sikap mental dan moral anak ketika dewasa nanti.

Anak-anak dimanapun diseluruh dunia ini terlahir untuk menjadi generasi penerus bangsanya. Mereka akan tampil menggantikan generasi yang lalu dengan berbagai macam sejarahnya. Maka dengan demikian, posisi strategis sebuah bangsa, mau tak mau, memang ada pada tangan anak-anak tersebut. Pendidikan anak harus selalu dikedepankan jika memang sebuah bangsa mau menjadikan bangsanya lebih maju dari sebelumnya, atau minimal mempertahankan segi positif dari apa yang sudah ada sebelumnya. Disini, peranan orang tua, guru, dan masyarakat umumnya, harus mulai memikirkan cara terbaik untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak tersebut.

Baca juga :

Kekerasan terhadap Anak

Latarbelakang kekerasan pada anak

Dampak Timbulnya Kekerasan pada anak

Bentuk-bentuk kekerasan anak (Child Abuse)

Kekerasan Orang Tua Pada Anak

Tulisan ini dipublikasikan di Psikologi Anak dan tag , , , , . Tandai permalink.

5 Respon untuk POTRET BURAM KEKERASAN TERHADAP ANAK

  1. Anton berkata:

    Artikel anda sangat menarik sekali,kebetulan saya sedang membuat blog tentang “Stop Child Abuse” saya sangat berterima kasih kalau artikel anda boleh saya masukan ke blog saya. Terima kasih

  2. ciecie berkata:

    wah…menarik sekali, saya juga sedang belajar tentang psikologi, dan saya juga bekerja di DIC fingerprint, suatu metode untuk melihat bakat genetis anak. Sehingga orang tua tidak perlu memakai kekerasan karena tidak tahu karakter anaknya (bagaimana menangani anakny).

  3. Supriya berkata:

    Hi Ciecie, DIC fingerprint di Jakarta ada di mana? kasih info dong, penting banget nih, bingung mo ngarahin masa depan anak

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>