Apa itu depresi?

Posted on May 15th, 2009 in Psikologi Kepribadian by Fitri

Kalau tidak salah selama 2 hari, tanggal 27- 28 April 2009, Jawa Pos mengulas kasus gangguan jiwa yang melanda sebagian besar masyarakat Indonesia. Issue ini paling tidak diakibatkan karena gegap gempita masyarakat Indonesia dalam melaksanakan Pemilu Legislatif kemarin menorehkan sejumlah masalah, antara lain para Caleg yang kalah dalam pileg dinyatakan ‘GILA’ (sebuah term yang sebetulnya kurang saya sukai). Nah, selama 2 hari tersebut Jawa Pos menulis artikel panjang yang intensif mengulas tentang gangguan jiwa, khususnya di Ibukota Jakarta. Dari tahun 2007, jumlah penderita gangguan jiwa di Jakarta semakin meningkat. Nah kali ini saya ingin membahas tentang Depresi. Pokok bahasan depresi ini saya tuangkan dalam artikel psikologi yang berjudul “Apa itu Depresi?”. Artikel ini juga bermaksud menjawab salah satu pertanyaan pengunjung yang bernama Eko yang bertanya “Semangat kerja kok menurun? apa aku depresi ? apa gejala dan jalan keluarnya?”

Depresi adalah kemuraman hati (kepedihan, kesenduan, keburaman perasaan)

Orang yang mengalami depresi adalah orang yang amat menderita. Menurut seorang ilmuwan terkemuka yaitu Rice, P. L. (1992), depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) seseorang. Pada umumnya mood yang secara dominan muncul adalah perasaan tidak berdaya dan kehilangan harapan. Depresi ditandai dengan perasaan sedih yang psikopatologis, kehilangan minat dan kegembiraan, berkurangnya energi yang menuju kepada meningkatnya keadaan mudah lelah yang sangat nyata sesudah bekerja sedikit saja, dan berkurangnya aktivitas.

Depresi merupakan gangguan mental yang sering terjadi di tengah masyarakat, berawal dari stres yang tidak diatasi, maka seseorang bisa jatuh ke fase depresi. Penyakit ini kerap diabaikan karena dianggap bisa hilang sendiri tanpa pengobatan. Padahal, depresi yang tidak diterapi dengan baik bisa berakhir dengan bunuh diri. Anda ingat berapa orang yang bunuh diri setelah perusahaannya dinyatakan bangkrut saat krisis ekonomi melanda dunia? Atau anda ingat berapa caleg yang berusaha bunuh diri saat dinyatakan oleh KPU tidak lolos?. Secara global lima puluh persen dari penderita depresi berpikiran untuk bunuh diri, tetapi yang akhirnya mengakhiri hidupnya ada lima belas persen. Selain itu, depresi yang berat juga menimbulkan munculnya berbagai penyakit fisik, seperti gangguan pencernaan (gastritis), asma, gangguan pada pembuluh darah (kardiovaskular), serta menurunkan produktivitas..

Gejala Depresi

Individu yang terkena depresi pada umumnya menunjukkan gejala psikis, gejala fisik & sosial yang khas, seperti murung, sedih berkepanjangan, sensitif, mudah marah dan tersinggung, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya konsentrasi dan menurunnya daya tahan. Namun yang perlu diingat, setiap orang mempunyai perbedaan yang mendasar, yang memungkinkan suatu peristiwa atau perilaku dihadapi secara berbeda dan memunculkan reaksi yang berbeda antara satu orang dengan yang lain. Menurut Frank J., Bruno dalam Bukunya Mengatasi Depresi (1997) mengemukan bahwa ada beberapa tanda dan gejala depresi, yakni:
a. Secara umum tidak pernah merasa senang dalam hidup ini. Tantangan yang ada, proyek, hobi, atau rekreasi tidak memberikan kesenangan,
b. Distorsi dalam perilaku makan. Orang yang mengalami depresi tingkat sedang cenderung untuk makan secara berlebihan, namun berbeda jika kondisinya telah parah seseorang cenderung akan kehilangan gairah makan.
c. Gangguan tidur. Tergantung pada tiap orang dan berbagai macam faktor penentu, sebagian orang mengalami depresi sulit tidur. Tetapi dilain pihak banyak orang mengalami depresi justru terlalu banyak tidur,
d. Gangguan dalam aktivitas normal seseorang. Seseorang yang mengalami depresi mungkin akan mencoba melakukan lebih dari kemampuannya dalam setiap usaha untuk mengkomunikasikan idenya.
e. Kurang energi. Orang yang mengalami depresi cenderung untuk mengatakan atau merasa, saya selalu merasa lelah atau saya capai. Ada anggapan bahwa gejala itu disebabkan oleh faktor-faktor emosional, bukan faktor biologis.
f. Keyakinan bahwa seseorang mempunyai hidup yang tidak berguna, tidak efektif. orang itu tidak mempunyai rasa percaya diri. Pemikiran seperti, saya menyia-nyiakan hidup saya, atau saya tidak bisa mencapai banyak kemajuan, seringkali terjadi.
g. Kapasitas menurun untuk bisa berpikir dengan jernih dan untuk memecahkan masalah secara efektif. Keluhan umum yang sering terjadi adalah, saya tidak bisa berkonsentrasi.
h. Perilaku merusak diri tidak langsung. contohnya: penyalahgunaan alcohol atau narkoba, nikotin, dan obat-obat lainnya. makan berlebihan, terutama kalau seseorang mempunyai masalah kesehatan seperti misalnya menjadi gemuk, diabetes, hypoglycemia, atau diabetes, bisa juga diidentifikasi sebagai salah satu jenis perilaku merusak diri sendiri secara tidak langsung.
i. Mempunyai pemikiran ingin bunuh diri. (tentu saja, bunuh diri yang sebenarnya, merupakan perilaku merusak diri sendiri secara langsung.

Nah setelah membaca artikel psikologi diatas, kiranya saudara Eko bisa menyimpulkan apakah anda sedang depresi atau tidak. Yang patut dicatat adalah, depresi biasanya ditimbulkan oleh perasaan inferior, rasa sakit hati yang dalam, kekecewaan-kekecewaan yang hebat, penyalahan diri sendiri dan trauma-trauma psikis. Jangan anda kemudian menyimpulkan semangat kerja menurun maka orang bisa dikatakan depresi, bisa jadi semangat kerja menurun karena gajian belum keluar :) Untuk saran dan jalan keluarnya saya belum bisa menjawab karena saya belum berkompeten ‘menyembuhkan’ gangguan kejiwaan. Saya hanya memberikan informasi berkaitan dengan persoalan-persoalan psikologis yang terjadi pada Individu. Mungkin lain kali saya akan menulis artikel lagi mengenai depresi, karena ada beberapa hal yang belum saya sebutkan kaitannya dengan depresi, antara lain Faktor penyebab depresi dan macam-macam depresi.

Frustrasinya Orang Kesepian

Posted on May 15th, 2009 in Psikologi Kepribadian by Fitri

Pernahkan anda menemui orang-orang yang kesepian? Orang tersebut merasa ngeri dan tersiksa. Mereka tidak bahagia. Wajah mereka selalu masam dalam menyikapi kehidupan. Mereka tidak berusaha mencari dan memahami sebab-sebab kesepiannya, tetapi mereka cenderung menyalahkan orang lain. Sebaliknya seringkali mereka malah mengatakan bahwa orang lan itulah yang tidak  bersahabat dan tidak mencintainya. Seringkali, seorang gadis yang tidak menikah merasionalisasi keadaannya dengan mengatakan bahwa kencan dan pergi dengan laki-laki tak ada gunanya karena kebanyakan laki-laki itu “buaya”. Yang lain mengatakan bahwa laki-laki yang mereka jumpai kebanyakan masih ingusan atau terlalu tua atau juga sudah pernah menikah. Pendek kata, selalu saja banyak cacatnya.

Penguin Kesepian

Penguin Kesepian

Demikian pula banyak janda yang tidak dapat bergaul dengan orang-orang yang punya suami atau isteri karena prasangka-prasangka tentang diri mereka sendiri. Akibatnya mereka kesepian. Kesepian lebih merupakan suatu simptom, gejala, dari suatu keadaan. Setiap orang dapat merasa kesepian, baik dia nikah atau tidak, sendirian atau dikerumunan banyak orang. Sebagian besar orang yang kesepian kurang hidup imaginasinya. Mereka kurang dapat menikmati saat-saat hidup mereka sebagai sesuatu yang menyenangkan, kecuali kerja. Mereka kurang terlatih dan tidak mampu bergaul dengan orang lain. Padahal sebenarnya tidak ada alasan bahwa seseorang harus menderita kesepian atau tak punya sahabat. Jadi masalahnya ialah bagaimana orang-orang demikian dapat bergaul dan bersahabat dengan orang lain, bagaimana membuat diri anda menarik bagi orang lain.

Nasihat bagi orang-orang kesepian
Orang-orang yang kesepian perlu menemukan sesuatu yang bersifat konstruktif untuk mengisi hari-hari kosong dan malam minggu mereka. Banyak hal yang dapat dinikmati dari alam ini. Tetapi untuk seseorang yang malas, tidak akan pernah dapat menemukan sesuatu pun yang menarik hatinya. Hobi bisa menjadi sarana pembantu untuk bertemu banyak orang dan untuk membangun persahabatan. Anda dapat masuk salah satu perkumpulan untuk menyibukkan diri dan mengikuti berbagai aktivitas sosial. Salah satu hal yang patut dicoba adalah membuat akun Facebook

:) DIJAMIN KETAGIHAN :)

Motivasi Berprestasi; Jawaban untuk kemajuan Indonesia?

Posted on May 4th, 2009 in Psikologi Kepribadian by Fitri

Pernah suatu ketika saya ditanya salah satu kawan, begini pertanyaannya “Menurutmu bagaimana bangsa ini bisa maju, masyarakatnya bisa makmur dan sejahtera?”, saya pun menjawab dengan pede, “Tentu saja dengan membangun perekonomian secara mandiri tidak terombang-ambing oleh intervensi asing, karena kuatnya pengaruh asing di negeri kita berdampak buruk pada masyarakat kita. Asing hanya akan mengeruk kekayaan negeri ini tanpa memikirkan nasib bangsa Indonesia. Kalau saja perekonomian,,,,,” “Eits, stop,,,!” belum sempat melanjutkan argumen, teman saya mengcut dan berkata “Lho aku khan nggak nanya urusan ekonomi? Yang aku tanyakan, bisa nggak Ilmu Psikologi menjelaskan keterpurukan serta cara memajukan bangsa ini?. Aku nggak ada urusan dengan IMF, WB, negara-negara donor, investor asing!”. Sambil tersenyum, aku kaget dengan pertanyaan tersebut. Penjelasan lewat ilmu psikologi,,, hemm,,, sambil berfikir sejenak, saya bilang “Ada!! sebuah penjelasan kondisi bangsa ini ditinjau dari perspektif psikologi”. Saya kemudian menjawab pertanyaan teman saya. Nah, jawaban itu saya tuangkan lewat artikel psikologi dengan judul Motivasi Berprestasi; Jawaban untuk Kemajuan Indonesia. :)

Pada tahun 1961, Gurubesar psikologi di Harvard University bernama David C. McClelland menulis tentang sebuah artikel berjudul ‘Dorongan Hati Menuju Modernisasi’ dimana merupakan salah satu inti dari buku yang populer dengan judul The Achieving Society. Tulisan tersebut merupakan salah satu dari beberapa pemikiran para sarjana Amerika dalam menghadapi tantangan terbesar di awal abad ke 19 yakni ‘Depresi’ ekonomi pada dekade 1920-1930an. Artikel yang ditulis David C. McClelland tersebut juga bertujuan sebagai panduan sebuah negara menuju modernisasi.

Pertanyaan mendasar dari buku maupun artikel tersebut adalah “Mengapa ada sejumlah bangsa yang mengalami kemajuan pesat dalam bidang sosial dan ekonomi, sementara ada yang merosot atau mandek?”. Pertanyaan tersebut dirumuskan kira-kira sebagau berikut; “Mengapa bangsa Romawi pada abad ke-4 SM, yang berkali-kali dikalahkan oleh orang-orang Kartago, tetap tekun mencari uang untuk membangun armada-armada baru hingga akhirnya mereka menang juga?”, “Mengapa Amerika Utara bekas diaman Inggris lebih berkembang pesat daripada bagian lainnya yang didiami oleh bangsa Spanyol, padahal bidang tanah yang lebih kaya terdapat di luar Amerika Utara”, “Mengapa Jepang terlebih dahulu berkembang pesat pada abad ke 19 sedangkan Cina baru-baru saja?” atau yang lebih mengena “Mengapa Malaysia, Singapura dianggap lebih maju atau menyalip Indonesia, padahal ditinjau dari Sumberdaya baik alam maupun manusia lebih unggul daripada mereka, apalagi Indonesia terlebih dahulu merdeka?”. Perbandingan-perbandingan serupa serupa dapat ditemukan dibeberapa bangsa, tetapi persoalannya tetap sama, yakni ‘Dorongan (impuls) apa yang menyebabkan terjadinya pertumbuhan ekonomi dan modernisasi?’. Disinilah peran Psikologi sebagai ilmu dan perspektif.

Para psikolog / ahli psikologi telah berhasil memberi sumbangan yang luar biasa dalam kemajuan ekonomi dunia saat itu. Pada waktu mereka meneliti sejenis “virus mental”, yaitu suatu cara berpikir tertentu yang terjadi pada diri seseorang, yang menyebabkan orang itu bertingkah laku dengan giat. Virus mental tersebut diberi nama n Ach (singkatan dari need for achievement; kebutuhan untuk berprestasi). Virus n Ach ditemukan pada orang yang melakukan sesuatu dengan lebih baik dari yang pernah ia perbuat sebelumnya. Sesuatu tersebut dapat dikatakan lebih efisien, lebih cepat, efektif. n Ach merupakan kebutuhan untuk mencapai sukses, yang diukur berdasrkan standart kesempurnaan dalam diri seseorang. Kebutuhan ini, berhubungan erat dengan pekerjaan, dan mengarahkan tingkah laku pada usaha untuk mencapai sukses. Apabila individu tesebut tingkah lakunya didorong oleh n Ach, maka tingkah lakunya akan nampak ciri- ciri sebagai berikut; 1) berusaha melakukan sesuatu dengan cara-cara baru dan kreatif, mencari feed back (umpan balik) tentang perbuatannya, 2) memilih resiko yang moderat (sedang) di dalam perbuatanya karena dengan memilih resiko yang sedang berarti masih ada peluang untuk berprestasi yang lebih tinggi, 3) mengambil tanggung jawab pribadi atas perbuatan-perbuatannya.

Kebutuhan berprestasi (n Ach / Need Achievement) digambarkan sebagai hasrat untuk mengerjakan sesuatu, melakukan sebuah pekerjaan yang baik, dan menjadi yang terbaik dari kebanyakan orang. Seseorang dengan kebutuhan berprestasi yang tinggi akan mendapatkan kepuasan dalam bekerja dan termotivasi untuk menjadi yang terbaik dalam mengerjakan apapun. Bingung?? :) saya akan memberikan contoh untuk kemudahan memahami virus n Ach / need for achievement / kebutuhan berprestasi. Bukan contoh sich,,, tapi hasil penelitian tentang virus mental tersebut. Sejumlah orang diminta bercerita untuk melihat pikiran-pikiran spontan mereka; si A bercerita mengenai “dirinya adalah seorang perjaka yang sedang belajar untuk sebuah ujian, ia belajar hingga larut malam tetapi sulit memusatkan pikirannya karena selalu teringat akan pacarnya”. Si B bercerita mengenai, “dirinya adalah seorang pemuda yang tekun berusaha mendapatkan angka yang baik untuk suatu ujian karena ia ingin memasuki sekolah kejuruan. Ia belajar hingga larut malam khawatir kalau kurang berhasil”. Hasilnya? Si B lebih berprestasi daripada si A. karena si B memiliki pikiran-pikiran yang ber- n Ach lebih banyak daripada si A. Si B dinyatakan lebih banyak dijangkiti virus n Ach.

“Lantas bagaimana kamu menjelaskan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa dengan virus n Ach atau need for achievement atau kebutuhan berprestasi?” begitu tanya kawanku tadi. Hubungan antara virus mental ini dengan pertumbuhan ekonomi baru menjadi jelas apabila kita membuka kesusteraan populer dalam jangka waktu yang cukup lama dikodifikasikan untuk menemukan n Ach – nya. Karena artikel ini saya rasa cukup panjang dan saya yakin akan timbul kebosanan bagi pembaca. Nah, pertanyaan teman saya tersebut akan saya jawab di artikel berikutnya,,,  :)  Trims uda meluangkan waktu untuk membaca artikel psikologi yang berjudul Motivasi Berprestasi; jawaban untuk kemajuan Indonesia?, nantikan lanjutan artikel tersebut dengan judul Sebuah Cerita lama tentang Motivasi Berprestasi.

Penyesuaian Diri pada Remaja

Posted on April 21st, 2009 in Psikologi Remaja by Fitri

Akhirnya jadi juga pergi ke warnet untuk ngupdate blog, seperti tulisan sebelumnya kesulitan mengakses blog gara-gara lemot nya indosat gprs, tapi mau tidak mau aktivitas nge-blog di duniapsikologi harus tetap jalan. Nah pada kesempatan kali ini dunia psikologi menuliskan artikel psikologi yang berkaitan dengan remaja, dengan judul Penyesuaian diri pada remaja. Nah begini ceritanya :)

teenfashiondm_468x384

Sebagai makhluk sosial yang membutuhkan kehadiran orang lain, dibutuhkan adanya keselarasan diantara manusia itu sendiri. Agar hubungan interaksi berjalan baik diharapkan manusia mampu untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri terhadap lingkungan fisik maupun lingkungan sosialnya, sehingga dapat menjadi bagian dari lingkungan tanpa menimbulkan masalah pada dirinya. Dengan kata lain berhasil atau tidaknya manusia dalam menyelaraskan diri dengan lingkungannya sangat tergantung dari kemampuan penyesuaian dirinya.

Penyesuaian dapat didefinisikan sebagai interaksi yang kontinyu antara diri individu sendiri, dengan orang lain dan dengan dunia luar. Ketiga faktor ini secara konstan mempengaruhi individu dan hubungan tersebut bersifat timbal balik (Calhoun dan Acocella,1976). Dari diri sendiri yaitu jumlah keseluruhan dari apa yang telah ada pada diri individu, tubuh, perilaku dan pemikiran serta perasaan. Orang lain yaitu orang-orang disekitar individu yang mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan individu. Dunia luar yaitu penglihatan dan penciuman serta suara yang mengelilingi individu.

Proses penyesuaian diri pada manusia tidaklah mudah. Hal ini karena didalam kehidupannya manusia terus dihadapkan pada pola-pola kehidupan baru dan harapan-harapan sosial baru. Periode penyesuaian diri ini merupakan suatu periode khusus dan sulit dari rentang hidup manusia. Manusia diharapkan mampu memainkan peran-peran sosial baru, mengembangkan sikap-sikap sosial baru dan nilai-nilai baru sesuai dengan tugas-tugas baru yang dihadapi (Hurlock,1980).

Disebutkan juga oleh Hurlock (1980) bahwa seperti halnya proses penyesuaian diri yang sulit yang dihadapi manusia secara umum, para remaja juga mengalami proses penyesuaian diri dimana proses penyesuaian diri pada remaja ini merupakan suatu peralihan dari satu tahap perkembangan ketahap berikutnya. Dalam periode peralihan ini terdapat keraguan akan peran yang akan dilakukan, namun pada periode ini juga memberikan waktu kepada remaja untuk mencoba gaya baru yang berbeda, menentukan pola perilaku, nilai dan sifat yang paling sesuai dengan dirinya. Dengan kata lain hal ini merupakan proses pencarian identitas diri yang dilakukan oleh para remaja.

Untuk menjadikan remaja mampu berperan serta dan melaksanakan tugasnya, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat tidaklah mudah, karena masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Pada masa ini dalam diri remaja terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang pesat pada fisik, psikis, maupun sosial. Salah satu tugas perkembangan masa remaja yang tersulit adalah yang berhubungan dengan penyesuaian sosial. Remaja harus menyesuaikan diri dengan lawan jenis dalam berhubungan yang belum pernah ada dan harus menyesuaikan dengan orang dewasa diluar lingkungan keluarga. Untuk mencapai tujuan dari pola sosialisasi dewasa, remaja harus banyak penyesuaian baru.

Agar penyesuaian yang dilakukan terhadap lingkungan sosial berhasil (well adjusted), maka remaja harus menyelaraskan antara tuntutan yang berasal dari dalam dirinya dengan tuntutan-tuntutan yang diharapkan oleh lingkungannya, sehingga remaja mendapatkan kepuasan dan memiliki kepribadian yang sehat. Misalnya sebagian besar remaja mengetahui bahwa para remaja tersebut memakai model pakaian yang sama denga pakaian anggota kelompok yang populer, maka kesempatan untuk diterima oleh kelompok menjadi lebih besar. Untuk itu remaja harus mengetahui lebih banyak informasi yang tepat tentang diri dan lingkungannya.

Capek banget ngerasain koneksi internet menggunakan Indosat GPRS

Posted on April 21st, 2009 in Uncategorized by Fitri

uda sekitar 2 minggu duniapsikologi tidak mengupdate tulisan. hal ini disebabkan koneksi internet yang saya gunakan ‘ngadat abiss,,,’. Kebetulan saya menggunakan koneksi internet dengan kartu Im3 dan modem hp Nokia 5300. Memakai Gprs duration Base,

Lewat postingan ini saya berkeluh kesah tentang lemotnya indosat klo dipake internetan. Sampai disini dulu uneg-uneg saya, mungkin beberapa hari kedepan Dunia Psikologi; Blog kumpulan artikel, tips dan ebook psikologi akan segera mengupdate tulisan, tentu saja alternatifnya menggunakan warnet :) tidak dengan koneksi im3 lagi, karena rasanya percuma menunggu indosat berbenah,, klo begini terus saya sepakat Indosat untuk dijual ‘total’ ke investor asing ketimbang dikuasai negara yang korup dan tak berkualitas. SAY YES TO SWASTANISASI BUMN!

Saat menulis uneg-uneg ini, saya masih menggunakan im3 sebagai koneksi internet, tapi baru 30 menit saya bisa masuk ke dashboard dagdigdug.com. Menulis nya pun tidak seperti biasanya, yakni menulis di halaman ‘qiuckPress’. Karna rasanya mustahil bisa masuk ke ‘Add New Posts’. Tulisan ini sekaligus kritik Dunia Psikologi terhadap Indosat agar segera berbenah.

Malu donk dengan slogannya,,,Indosat Kaco

Stress and Coronary Heart Disease risk

Posted on April 8th, 2009 in 1st English Article by Fitri

sept3_tgl_03908stres

Stress is seen as a significant factor as dominant risk factors Coronary heart disease. Stress itself is a positive and there were also negative. Stress the positive impact good, feeling like you want to advance common goals is one of the positive stress.

Stress such as negative resent a very excessive, if not managed properly will cause a very harmful impact and unfortunately very few people realize that he has been exposed to negative stress.

When the stress level is very high and it will weigh very dangerous to health, especially if the age is over 40 years, the age of all risk factors are increased.

According to health experts stress clinic can trigger bursts of adrenalin and catekolamin the substance that can cause high blood vessel constriction and increased heart throbbing heart, which can cause disrupted blood supply to his heart.

People often experience negative stress is very closely related to the personality type. People with type A personality type have a tendency easily affected by heart disease.

Described type A personality that has a prominent feature that is very important as the time limit and schedule an appointment time. Also very strong have a desire to always win in every competition or competition, is very aggressive, hostile irritability also. Nature of the two last ones that trigger the occurrence of multiple coronary heart disease. (http://www.isfinational.or.id)

Next Page »